roby-badan-inovasi-digital

Roby, Ketua Badan Inovasi Digital PB PII

Pontianak — Kondisi kemarau berkepanjangan yang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berdampak terhadap ketersediaan air bersih mendapat perhatian dari Roby, Ketua Badan Inovasi Digital Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII).

Roby mendorong agar penanganan karhutla dan dampak kemarau tidak hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi, tetapi diperkuat melalui langkah pencegahan dan sistem kesiapsiagaan yang melibatkan berbagai pihak.

“Kita perlu membangun satuan atau sistem lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, relawan, dan unsur terkait lainnya. Pencegahan harus menjadi prioritas, bukan hanya bergerak ketika api sudah membesar,” ujar Roby.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi untuk melibatkan para ahli dalam merancang strategi menghadapi kemarau dan karhutla. Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik dan keahlian yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan risiko, penelitian kondisi lingkungan, hingga pengembangan teknologi pendeteksian dan pencegahan kebakaran.

“Kampus jangan hanya dilibatkan ketika kita membutuhkan kajian setelah bencana terjadi. Para ahli, peneliti, mahasiswa, dan inovator perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan. Teknologi yang memungkinkan juga harus dimanfaatkan, mulai dari pemantauan titik rawan, sistem peringatan dini, pemetaan wilayah hingga teknologi pengelolaan air,” lanjutnya.

Roby menilai kolaborasi tersebut penting agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap memasuki periode kemarau panjang. Menurutnya, diperlukan sistem yang mampu mengidentifikasi wilayah rawan sejak dini sehingga pemerintah dan masyarakat dapat mengambil langkah sebelum kondisi menjadi lebih buruk.

Apresiasi Kebijakan Air Bersih Gratis

Selain persoalan karhutla, Roby juga menyoroti kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih selama kemarau berkepanjangan.

Ia mengapresiasi langkah Walikota Pontianak bersama Perumda Air Minum Tirta Khatuliswa yang memberikan akses air bersih atau air tawar secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan di tengah kondisi sulit saat ini.

“Saya mengapresiasi langkah PDAM yang menggratiskan air bagi masyarakat. Ini merupakan bentuk keberpihakan yang sangat dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang. Namun, kami berharap jangkauannya dapat terus diperluas sehingga semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat,” kata Roby.

Menurutnya, perluasan akses distribusi air bersih juga penting untuk mencegah terjadinya antrean dan kerumunan masyarakat di titik-titik pengambilan air.

Di sisi lain, Roby meminta adanya perhatian terhadap potensi kenaikan harga air di depot-depot air. Menurutnya, ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, masyarakat berpotensi semakin terbebani apabila harga air mengalami kenaikan.

“Jangan sampai masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan justru mendapatkan beban tambahan karena harga air naik. Pemerintah perlu memastikan distribusi air berjalan dengan baik, memperluas titik pelayanan, dan melakukan pengawasan agar tidak terjadi praktik menaikkan harga secara tidak wajar,” tegasnya.

Roby berharap penanganan kemarau tidak berhenti pada respons jangka pendek, tetapi menjadi momentum untuk membangun sistem ketahanan air dan pencegahan karhutla yang lebih kuat.

“Yang kita butuhkan bukan hanya pemadaman ketika kebakaran terjadi atau bantuan air ketika masyarakat sudah kesulitan. Kita harus membangun sistem pencegahan yang terintegrasi, berbasis data, melibatkan masyarakat, pemerintah, kampus, para ahli, dan teknologi. Dengan begitu, kita bisa lebih siap menghadapi kemarau berikutnya dan mengurangi risiko kejadian yang sama terulang kembali,” tutup Roby.